Memahami Teori Psikologi Interpersonal (Harry Sullivan)
Gambaran Umum Teori Interpersonal
Teori Interpersonal dari Sullivan menekankan pentingnya setiap tahap perkembangan manusia, mulai dari bayi, kanak-kanak, remaja, dan dewasa. Perkembangan manusia yang sehat ditentukan dari kemampuan manusia untuk memiliki hubungan intim dengan orang lain. Intim yang dimaksud disini bukan mengacu kepada seksual, tetapi merujuk kepada hubungan yang karib atau akrab.
Namun, sayangnya hubungan interpersonal yang intim pada tahap perkembangan
manapun, dapat mengalami kegagalan karena kecemasan. Hal ini khususnya terjadi
pada masa remaja, dimana pada masa ini seorang anak memiliki potensi untuk
membina hubungan yang karib dengan temannya, tanpa disertai nafsu seksual.
Sayangnya, teori
interpersonal ini tidak dijiwai secara penuh oleh penggagas teori tersebut. Sullivan
memiliki hubungan yang tidak memuaskan dengan orang lain. Pada saat
kanak-kanak, ia merasa sendirian dan terasing secara fisik. Pada masa remaja,
ia mengalami satu episode skizofrenia. Pada masa dewasa, ia mengalami hubungan
interpersonal yang ambivalen. Sangat ironis! Walaupun ia sendiri justru
memiliki kesulitan dalam membina hubungan interpersonal, namun teorinya ini
memiliki peran dalam memahami kepribadian manusia.
Teori Kepribadian Sullivan
Sullivan memandang kepribadian sebagai sistem energi, dimana energi itu berupa
:
- Ketegangan, yaitu
potensi tindakan yang dialami dalam kondisi sadar dan tidak sadar.
Sullivan menyatakan dua jenis ketegangan, yaitu kebutuhan dan kecemasan.
Kebutuhan, merupakan ketegangan yang dibawa oleh ketidakseimbangan biologis
dan psikis. Kebutuhan bersifat sementara, karena jika sudah terpuaskan
maka akan melemah, namun dapat muncul kembali di lain waktu. Misalnya,
kebutuhan akan makanan dan kasih sayang. Dalam teorinya, Sullivan
menekankan pada kebutuhan psikis, yaitu kebutuhan interpersonal yang
berupa kelembutan dari orang lain. Kecemasan. Sullivan percaya bahwa
kecemasan muncul karena ditransfer dari orangtua ke anak melalui proses
empati. Kecemasan ini memiliki efek merusak pada masa dewasa, karena
menghambat perkembangan hubungan inetrepersonal yang sehat. Selain itu,
kecemasan membuat orang tidak mampu belajar, rusaknya ingatan,
mempersempit sudut pandang, bahkan menyebabkan amnesia total.
- Transformasi
Energi, yaitu usaha mengubah ketegangan menjadi tingkah laku tersembunyi
atau terbuka, untuk memuaskan kebutuhan dan mengurangi kecemasan. Tingkah
laku tersembunyi dapat berupa emosi, pikiran, atau tingkah laku yang
tersembunyi. Dalam transformasi energi, tingkah laku yang konsisten akan
disebut dengan dinamisme, atau sifat, atau pola kebiasaan. Dinamisme
memiliki dua kelas, yaitu dinamisme yang berhubungan dengan zona khusus
pada tubuh dan dinamisme yang berkaitan dengan ketegangan. Dinamisme yang
berkaitan dengan ketegangan terdiri dari tiga kategori, yaitu disjungtif,
mengasingkan, dan konjungtif. Disjungtif, yaitu pola tingkah laku
destruktif, berkaitan dengan konsep kedengkian. Kedengkian muncul pada
usia sekitar dua atau tiga tahun, ketika orangtua berusaha mengendalikan
tingkah laku anak dengan teguran atau tindakan fisik. Tindakan dengki
dapat berupa sifat penakut, nakal, kejam, dan tingkah laku antisosial
lainnya. Mengasingkan, yaitu pola tingkah laku yang tidak berhubungan
dengan hubungan interpersonal, seperti nafsu seksual, yang tidak butuh
siapapun untuk memenuhinya. Konjungtif, yaitu pola tingkah laku yang
bermanfaat, seperti keintiman dan sistem diri. KEINTIMAN berbeda dengan
minat seksual, karena keintiman itu muncul sebelum masa pubertas.
Keintiman membutuhkan kemitraan yang seimbang dan sebanding. Keintiman
membantu seseorang mengurangi kecemasan, sehingga keintiman adalah
pengalaman berharga yang diinginkan semua orang sehat. SISTEM DIRI
berkembang lebih dahulu dibanding keintiman. Sistem diri merupakan sistem
peringatan diri yang mampu mendeteksi adanya peningkatan atau penurunan
kecemasan. Di satu sisi, sistem diri mampu melindungi manusia dari rasa
cemas, namun di sisi lain hal ini merugikan pertumbuhan dan perkembangan
kepribadian. Mengapa demikian? Karena sebenarnya, objek kecemasan
terkadang harus dihadapi, bukan dihindari. Manusia perlu belajar
menghadapi itu agar dirinya mengalami perubahan menjadi pribadi yang
berkembang.
Tingkat Kognisi
Dalam teorinya, Sullivan menyebutkan mengenai tingkat kognisi, yaitu suatu hal
yang mengacu pada proses merasa, membayangkan, dan memahami. Sullivan membagi
kognisi menjadi tiga tingkat, yaitu :
- Prototaksis, yaitu
tingkat dimana sebuah pengalaman tidak dapat dikenali, dikomunikasikan,
atau digambarkan. Pengalaman itu terkait dengan zona tubuh yang berbeda.
Misalnya, bayi merasa lapar dan sakit, maka ia menangis dan mengisap ibu
jarinya. Bayi tidak tahu alasan tindakannya dan tidak dapat melihat
hubungan antara tindakan dengan rasa lapar yang terpuaskan. Pengalaman ini
terjadi di luar ingatan sadar. Pada orang dewasa, pengalaman prototaksis
dapat berbentuk sensasi sementara, bayangan, perasaan, suasana hati, atau
kesan.
- Parataksis, yaitu
tingkat dimana pengalaman pralogis muncul, karena seseorang berasumsi
bahwa dua kejadian yang muncul bersamaan memiliki hubungan sebab akibat.
Kesimpulan kurang tepat ini disebut distorsi parataksis. Kognisi
parataksis lebih mudah dikenali dari prototaksis, namun memiliki makna
pribadi. Pengalaman ini dapat dikomunikasikan dengan orang lain, dalam
bentuk yang telah diubah.
- Sintaksis, yaitu
tingkat dimana sebuah pengalaman dapat disepakati dan dikomunikasikan
secara simbolis. Kognisi ini muncul pertama kali, ketika suara atau
gerakan isyarat mulai memiliki makna yang sama bagi anak maupun orangtua.
Pengalaman yang dewasa adalah pengalaman yang terjadi di ketiga
tingkat.
Tahapan Perkembangan
Sullivan menyatakan bahwa ada tujuh tahap perkembangan yang dapat mempengaruhi
pembentukkan kepribadian manusia. Selain dapat dibentuk atau terbentuk,
kepribadian juga dapat mengalami perubahan. Perubahan kepribadian dapat terjadi
pada saat apapun, namun cenderung terjadi pada masa transisi, dari satu tahap
perkembangan ke tahap perkembangan berikutnya.
Tujuh tahap perkembangan itu adalah :
- Masa Bayi. Masa
ini terjadi pada usia 18 – 24 bulan. Sullivan meyakini bahwa pada masa
ini, seorang bayi menjadi manusia melalui kelembutan seorang ibu. Bentuk
hubungan ibu dan bayi dapat menjadi sumber kecemasan dalam diri bayi
tersebut. Kecemasan ibu selalu berasal dari pengalaman terdahulunya.
Kecemasan bayi selalu dikaitkan dengan situasi perawatan yang terkait
dengan zona oral. Misalnya, makan, minum, dll. Jika bayi merasa cemas,
maka ada kemungkinan ia akan mencoba cara apapun untuk mengatasi kecemasan
tersebut, seperti menolak puting susu ibu atau menangis. Menangis ini
dapat disebabkan karena bayi cemas atau merasa lapar. Pada kondisi ini,
bayi akan mulai membedakan sosok ibu, sebagai sosok ibu yang baik atau ibu
yang buruk. Di sinilah persepsi awal bayi mengenai hubungan interpersonal
secara sepihak terbentuk. Disebut secara sepihak, karena dalam hubungan
ini, bayi hanya dapat menerima, belum memberi.
- Masa Kanak-kanak.
Masa ini terjadi pada usia sekitar 2 – 6 tahun. Pada masa ini, ibu
tetaplah menjadi orang lain yang paling signifikan bagi anak. Namun, anak
mulai dapat melihat peran ayah baginya. Pada masa ini, hubungan
interpersonal tidak terjadi secara sepihak saja, tetapi berbalasan.
Misalnya, anak mampu memberi kasih sayang, sama halnya ia sudah menerima
kasih sayang. Selain itu, anak prasekolah pada masa ini juga membentuk
hubungan interpersonal dengan teman khayalan. Sullivan menyatakan bahwa
memiliki teman khayalan bukanlah tanda ketidakstabilan, namun sebuah
kejadian positif yang membantu anak untuk siap dan mandiri menghadapi
keintiman dengan teman nyata, di masa selanjutnya.
- Masa Juvenil. Masa
ini terjadi pada usia 6 – 8,5 tahun. Masa ini ditandai dengan adanya
kebutuhan akan kelompok teman bermain yang memiliki status sama. Namun, di
akhir masa ini, anak akan menemukan satu teman yang sangat akrab
dengannya. Pada masa ini, Sullivan meyakini bahwa anak pada masa ini,
sebaiknya belajar untuk bersaing, berkompromi, dan bekerjasama. Ketiga hal
ini penting dilakukan karena akan membantu anak untuk belajar
bermasyarakat dan menjalin hubungan interpersonal.
- Masa Praremaja.
Pada masa ini, anak memulai menjalin hubungan intim dengan orang tertentu,
biasanya dengan jenis kelamin, usia, dan status yang sama. Hubungan yang
terjalin pada masa ini tidak terpusat pada diri sendiri, melainkan sudah
didasari oleh ketulusan dalam berteman. Sullivan menyebut kondisi ini
sebagai proses seorang anak menjadi makhluk sosial. Memiliki teman adalah
hal yang penting pada masa ini karena memungkinkan anak untuk memperoleh
kepribadian yang berkembang dan minat luas dalam lingkungan sosial. Jika
anak tidak belajar mengenai keintiman di masa ini, kepribadian mereka
tidak akan bertumbuh dengan maksimal.
- Masa Remaja Awal.
Masa ini ditandai oleh pubertas dan munculnya ketertarikan dengan lawan
jenis. Ini yang kita sebut sebagai hubungan intim yang disertai dengan
nafsu seksual. Dapat dikatakan bahwa masa ini menyebabkan remaja menjadi
stres, karena di satu sisi remaja ingin membina hubungan intim yang tidak
disertai nafsu seksual, namun di sisi lain, pubertas yang dialami remaja
menyebabkan nafsu seksual itu muncul. Jika remaja mampu keluar dari
konflik ini, yaitu mampu membina hubungan intim dan mampu mengendalikan
nafsu seksualnya, maka ini adalah titik balik dalam pertumbuhan dan
perkembangan kepribadiannya. Kondisi ini akan membantu remaja di masa
selanjutnya, yaitu tidak melihat lawan jenis sebagai objek seksual
semata.
- Masa Remaja Akhir.
Masa ini ditandai ketika remaja mampu merasakan keintiman dengan orang
yang sama dan menjalin hubungan cinta di dalamnya. Selain itu, remaja ini
akan mulai membina hubungan di perguruan tinggi, tempat bekerja, dengan
cara bertukar pikiran atau ide. Kemampuan membina hubungan di masa ini,
dipengaruhi oleh kemampuan di masa sebelumnya. Jika gagal di masa
sebelumnya, maka remaja akan membina hubungan tanpa keintiman (hubungan
yang tidak mendalam atau dangkal).
- Masa Dewasa. Pada masa ini, manusia akan mencapai hubungan cinta dengan orang yang signifikan. Sullivan tidak terlalu banyak mengemukakan pendapat mengenai masa dewasa ini. Ia menyatakan bahwa orang yang sudah mencapai kemampuan mencintai bukanlah orang yang membutuhkan konsultasi lagi. Namun, ia mengatakan bahwa kondisi klinis yang terjadi pada masa dewasa, bukanlah terjadi di masa itu, tetapi hasil dari masa-masa sebelumnya.
Gangguan Kepribadian
Dalam Teori Interpersonal, Sullivan meyakini bahwa gangguan psikologis
disebabkan karena faktor interpersonal. Oleh karena itu, gangguan ini dapat
dipahami dengan memahami kondisi lingkungan sosial. Awal mula karirnya adalah
ketika Sullivan bekerja dengan pasien yang mengalami skizofrenia. Sullivan
membedakan dua jenis skizofrenia, yaitu gangguan yang memiliki gejala karena
faktor organik dan gangguan yang memiliki gejala karena faktor lingkungan. Jika
disebabkan oleh faktor organik, maka Sullivan menyatakan bahwa hal itu berada
di luar ilmu psikiatri interpersonal. Namun, jika disebabkan oleh faktor
lingkungan, maka gangguan ini menjadi pusat perhatian Sullivan, karena kondisi
orang yang mengalami gangguan skizofrenia itu dapat dipulihkan dengan psikiatri
interpersonal. Orang yang mengalami gangguan skizofrenia ditandai dengan
kondisi awal, yaitu kesendirian, rasa percaya diri yang rendah, emosi yang
tidak wajar, dan memiliki hubungan tidak memuaskan dengan orang lain.
Psikoterapi
Sullivan meyakini bahwa gangguan psikologis disebabkan karena adanya hambatan
dalam hubungan interpersonal. Oleh karena itu, ia membuat prosedur
psikoterapinya berdasarkan usaha memperbaiki hubungan klien dengan orang lain.
Proses ini dilakukan dengan cara terapis berperan sebagai pengamat partisipan,
yaitu menjadi bagian dari hubungan interpersonal klien, melakukan tatap muka
dengan klien, dan memberi kesempatan klien untuk berkomunikasi dengan orang
lain.
Cara Sullivan menangani klien yang mengalami skizofrenia sangat radikal. Ia
menempatkan klien di bangsal yang sesuai pilihan klien. Klien tersebut
ditangani tenaga nonprofesional yang terlatih, dan berperan sebagai teman
sesama manusia. Cara ini sangat efektif karena klien-kliennya sembuh.
Erich Fromm menilai bahwa cara Sullivan ini baik, karena skizofrenia sebagai
gangguan psikosis, bukan disebabkan karena gangguan fisik. Selain itu, ia
menyatakan bahwa hubungan manusia dengan orang lain adalah intisari pertumbuhan
psikologis.
Tujuan umum terapi Sullivan adalah mengungkap kesulitan klien dalam berhubungan dengan orang lain. Untuk membantu tujuan ini, ada dua hal yang dilakukan terapis, yaitu : (1) mendorong klien merasa aman ketika bertemu orang lain dan (2) membantu klien menyadari bahwa jika klien mampu membina hubungan pribadi dengan orang lain, maka ia akan sehat secara mental.
- Alwisol (2009).
Psikologi Kepribadian, Edisi Revisi. Malang : UMM Press
- Feist, J &
Gregory Feist (2010). Teori Kepribadian, Edisi 7, Buku 1. Jakarta :
Salemba Humanika
- Schultz, D (1991).
Psikologi Pertumbuhan, Model-model Kepribadian Sehat. Yogyakarta :
Penerbit Kanisius
- Suryabrata, S
(2011). Psikologi Kepribadian. Jakarta : RajaGrafindo Persada

Komentar
Posting Komentar